BIGBOS KENANGAN
Nama saya Bela Wilianti, waktu kecil saya pengunjung tetap puskesmas.
Akan tetapi, semakin bertambahnya usia penyakit jadi bosan menggerogoti tubuh saya. Jadi, kalau sekarang, Insya Allah sudah lebih kuat fisiknya :)
*
Waktu kecil juga, saya punya banyak cita-cita yang cukup mustahil untuk diwujudkan.
Seperti ingin menjadi jadi salah satu tokoh dalam super hero power rangers, bisa punya kekuatan untuk menghilang, dan menjadi penyanyi cilik walaupun gak bisa nyanyi.
Haha, kedengarannya cukup absurd ya jika ditilik dari sudut pandang orang gede. Tapi, buat anak-anak sepertiku pada zaman itu, ya ruang imajinasi memang tak ada batasnya.
*
Besar dan tumbuh di daerah pedesaan membuatku cukup lekat dengan hutan.
Tentu momentum yang bisa aku manfaatkan untuk menjadi anak hutan. Hehe, maksudnya suka jalan-jalan ke hutan, sok-sokan adventure gitu (nge-bolang).
Jalan-jalan di hutan belakang rumah, bermain di sungai, dan pas libur paling senang diajak ke sawah buat main lumpur, gak karuan mutarin desa menggunakan sepeda ketemu anak kecil diledekin sampai nangis.
Ampun deh masa kecil itu...
Jadi, waktu kecil itu rutinitas sehari-hariku, bagun pagi mandi, di sekolah ketemu teman; main. Pulang sekolah; main.
Sorenya pulang ke rumah, cepat-cepat mandi, pergi ke masjid, nunggu magrib datang; main. Malamnya belajar mengaji pulang perginya; main.
Pokoknya yang dipikiran saat itu cuma MAIN. Enggak ada beban, kecuali marahnya Bapak dan omelan Ibu yang nyuruh belajar.
Buat tim yang tumbuh di era 90'an dan 2000'an awal, hal tersebut pasti relate deh.
Suka hutan dan segala bentuk petuangan membuatku kukuh dari SMP sampai SMA ikutan pramuka. Bahkan, menjadi salah satu peserta jambore nasional ataupun internasional dulunya juga merupakan cita-cita terbesarku.
*
Waktu kecil, aku juga pernah jadi anak alay, fans fanaticnya IDOLA CILIK dan COBOY JUNIOR.
Di zaman itu, dinding facebookku semuanya berkisah tentang mereka. Aku selalu menyelipkan doa agar bisa ketemu mereka.
Bahkan aku pernah doa gini, "Ya Allah, jika Kau belum mengizinkan hamba bertemu mereka di dunia ini. Pertemukanlah nanti hamba dan mereka saat Kau kumpulkan di Padan Masyar."
Haha, kalo dipikir-pikir, itu hal yang cukup mustahil bukan?
Di Padang Masyar, mana ada lagi mikirin hal-hal kayak gitu. Yang ada fokus mikirin amalan dan dosa semasa di dunia.
Doa yang sungguh kocak!
Di sisi lain, ada untungnya juga ikutan jadi member komunitas fans, karena dari sana aku bisa belajar nulis. Bahkan, dengan cara yang sungguh tidak disengaja.
Tuhan menijabah doaku. Aku memang tidak dipertemukan dengan idola-idolaku, tetapi justru dipertemukan dengan hal yang sangat aku sukai hingga saat ini, yaitu menulis.
Dinding facebookku yang awalnya sebatas coretan alay, puisi-puisi tak berguna, cerpen-cerbung yang enggak nyambung, ternyata sebermanfaat itu.
Melalui komunitas fans, aku juga punya banyak sahabat pena di luar daerah. Mereka sama sepertiku, si penulis amatir. Kami punya grup di facebook, namanya Sois Dramatisir.
Berbeda 180 derajat dari sekarang, pokoknya bagiku, dulu bermain facebook itu sangat amat berfaedah.
Beranjak remaja, waktu SMA aku pernah nulis cerita dan puisi di buku bigbos. Setelah setelah ditulis, bukunya aku gilir ke teman-temanku.
Huuuaahh, waktu itu liat respon mereka, baca komentar-komentar yang mereka tulis di buku itu rasanya senang sekali.
Teman-temanku suka sekali tulisan di buku bigbos itu. Mereka sampai rebutan buat pinjam. Bahkan, buku bigbos itu pernah menjadi teman perjalanan salah satu sahabatku yang ikut karantina Paskibraka.
Hmm, maklum sajalah hidup dipedesaan gak ada tokoh buku. Terus kalau di perpus sekolah, buku bacaan itu langka cuy!
Teknologi memang sudah ada, gadget mulai berkembang, tapi waktu itu anak-anak desa itu masih cukup gaptek. Aku juga belum kenal blogger dan wattpad.
Aku enggak tahu tempat untuk ngeproduce tulisan-tulisanku waktu itu, selain melalui dinding facebookku.
Bahkan, aku juga pernah menjadi salah satu admin FansPage Cerpen Cerbung.
Di perpustakaan sekolah, majalah juga enggak ada. Adanya hanya koran bekas yang kebanyakan topiknya membahas masalah politik dan kriminal.
Sebenarnya desaku itu gak kampung, kampung banget! Gak dalem dalam amet!
Kalau misalnya dari Kota Bengkulu pengen ke pulau Jawa menggunakan transfortasi darat, desa saya tu dilewatin.
Itu yang membuatku begitu sedih. Aku dan teman-temen waktu itu SANGAT-SANGAT BUTA LITERASI. Bahkan, udah jadi cita-citaku juga pengen mendirikan rumah baca di sekitaran daerah kelahiranku itu.
Udah jadi cita-cita saya banget untuk mendirikan tokoh buku dan rumah literasi di sana sejak dulu.
*
Kembali ke zaman sekarang, saya berpikir AKU CUKUP BANGGA dengan diriku di zaman itu.
"hidup dipedesaan, belum pernah baca novel hebat penulis terkenal, yang cuma modal 'membaca cerpen-cerbung di medsos', tapi saya mampu menyediakan sarana literasi untuk teman-teman."
Ya walaupun dulunya itu semua hanya goresan sederhana yang jauh dari aturan kalimat, ejaan yang berantakan, dan kata-kata yang penuh singkatan untuk ngehemat kertas.
Seorang teman saya beberapa waktu lalu mengingatkan, "karena buku bigboos itu kan, Bell, kamu akhirnya bercita-cita mau jadi penulis? "
Bener banget! Respon kalian juga yang buat saya terus nulis sampai sekarang. I miss u, guys..
Buat temen-temanku yang baca coretanku di buku bigbos itu, dulu.. terima kasih banyak untuk semua dukungannya.
Buku bigbos itu pula yang membuat guruku memilih aku untuk diikutkan dalam lomba menulis cerpen tingkat SMA se-Provinsi Bengkulu waktu kelas sepuluh.
Ya, pada waktu itu pulangnya memang enggak bawa piala.
Tapi, beberapa tahun setelah itu justru novel pendekku dipilih Kantor Bahasa Bengkulu untuk menjadi bahan bacaan literasi di provinsi ini.
Kantor Bahasa juga yang akhirnya mengirimkan karya saya tersebut, ke sekolah saya dulu.
Huuuuhhh, saat mengetik ini aku rasanya merinding :D
Aku ingat banget, dulu rasanya sedih banget karena gak bawa pulang piala di lomba cerpen tingkat provinsi itu.
Tapi, aku juga ingat banget Pak Sajudin, kepala sekolahku saat itu dan Ibu Darma guru mapel Bahasa Indonesia pernah ngasih penguatan yang masih aku ingat sampai sekarang:
"Jangan berhenti menulis. Nanti, kau akan menjadi penulis yang lebih hebat!" mereka benar!
Huuuaah, cukup panjang ya cerita seutas kisah tentang Bigbos kenangan ini. Terima kasih sudah membaca...
