Bu, Pak, Maaf

"Hari ini aku mau ngapain, ya?"

Pertanyaan yang selalu aku ajukan ke diri sendiri saat bangun tidur akhir-akhir ini. Sebelum tidurpun gitu; sibuk mikirin berbagai hal yang sebenarnya enggak terlalu penting untuk dipikirin. Setelah pemalas profesional, the overthinker women mungkin cocok buat julukan aku saat ini.

Jam tidurku juga sangat-sangat berantakan sekarang. Selalu di atas jam 00.00. Walaupun niat untuk tidur, matiin lampu, baringin badan itu udah  dari pukul 21.00, tetep aja tidurnya di atas jam 00.00, bahkan pernah semalaman enggak tidur.

Kalo balas dendam tidur esoknya, gapapa ya sesekali. Nah, ini masalahnya besoknya juga susah buat tidur. Siang apalagi. Akibatnya juga fatal, yakni tidak ada daya. Kayak, ngapa-ngapain itu malas banget. Waktu yang harusnya bisa dipake buat produktif, malah terbuang sia-sia. Padahal, waktu adalah kekhawatiran besar yang selalu mengangung di kepalaku. Waktu yang fana dan fatamorgana.


Tak jarang saat terbangun, mata jadi berat banget. Berat, bukan karena ngantuk. Bengkak. Terlalu puas nangis.

Waktu kecil, ciri-cirinya kalo udah bengkak kayak gitu tu pasti abis dimarahin. 

"Bapakku tu keras banget! Ibuku itu cerewet banget!"

Dulu, itu yang sering aku protes.

Ternyata, semua itu enggak ada apa-apanya! Dunia luar jauh berlipat-lipat kali lebih keras dan lebih cerewet. Tahu siapa yang selalu jadi garda batin untuk ngelawan semua? Mereka, mereka yang kusebut KERAS dan CEREWET itu! Mereka sumber kekuatan yang selalu jadi penopang goyahnya pertahanan, secara verbal bahkan juga magis.

Kayak, kita punya jawaban mutlak tentang alasan untuk apa kita lahir. Untuk mereka!

Iya, untuk mereka!

Mereka yang jadi alasan kenapa hidup ini tidak boleh berakhir sia-sia. Mereka juga yang jadi alasan menghadap Tuhan untuk berdoa. Berdoa agar cita-cita mulia, untuk bisa menghias masa tua mereka dengan kebahagiaan bisa sesegeranya jadi nyata. Mereka jadi alasan untuk berjuang, melangkah lebih jauh, bergerak lebih cepat. Itu yang selalu memenuhi kepalaku saat malam tiba. Di umur yang tidak lagi remaja ini, yang selalu bersaing dengan kesempatan usia (kita atau mereka), masih belum ada yang bisa dipersembahkan sebagai afeksi buah terima kasih atas segala karingat dan air mata yang mereka korbankan selama ini. Masih jauhhh!

Haha, sekarang jadi tahu kan, "alasan mata bengkak saat bangun tidur dulu dan sekarang itu masih sama, MEREKA." 


Aku selalu suka protes, "Keluargaku tidak sehangat keluarga lain. Aku tidak pernah dipeluk, aku tidak pernah dipuji, aku tidak pernah diajak bercanda. Mereka hanya suka mengkritisi, membanding-bandingkan, dan memasang peraturan yang tentu saja ENGGAK FAIR.

Aku selalu berpikir, "wujud insecurity yang ada di diriku diciptakan oleh bapak dan ibuku." Sejak kecil, aku terlalu sering dibentak, dimarah, disalah-salahkan. Bahkan, kau tahu.. Kenapa aku betah sendirian hingga sekarang, karena terauma itu! Aku takut, aku paling tidak ingin jika nanti punya suami sifatnya seperti bapakku. Jadi, terhadap lelaki, aku harus berhati-hati.

Tapi, hei...

Mereka tidak salah!

Didikan mereka adalah copy dari generasi sebelumnya. Iya, memang.. Ibu dan Bapakku tidak sempurna. Namun bagaimanapun, AKU SAYANG MEREKA. Bahkan, kalau boleh jujur, rasa sayang itu lebih besar dari rasa sayang terhadap diriku sendiri. Kayak, kalo liat mereka sakit, jangan mereka..biar aku saja!


Mereka memang tidak pernah memeluk saat melihat aku ada, karena yang terpantau oleh mereka, aku baik-baik saja dan tidak ada yang bisa mengganggu atau mencelakaiku. Bahkan nyawapun mereka taruhkan untuk itu. Tapi, hei... saat aku jauh dari pantauan mereka, di sanalah pelukan itu bekerja. Pelukan yang lebih hangat dari yang kubayangkan sebelumnya. Doa-doa mereka.

Mereka tidak pernah memuji di hadapanku langsung. Tapi, hei.. andai aku bisa menyibak hati mereka. Limpahan syukur yang terhingga, meluap-luap melebihi kata-kata, yang selalu membuat mereka bingung bagaimana cara mengungkapkannya. Ya, aku tahu! Aku tahu itu!

Mereka memang tidak pernah mengajak bercanda. Karena untuk apa? Waktu mereka sia-sia kalau hanya sekadar untuk itu. 

Lihat Bapak, badan tuanya yang tidak lagi gagah tetap dipaksa bekerja! Lihat Ibu, apapun dia jalani bahkan jika harus menguras berat badannya. Mereka berjuang tak kenal lelah, memastikan besok gizi anak-anaknya tercukupi, pendidikan anak-anaknya terpenuhi, cita-cita anak-anaknya bisa diraih. Tanpa memikirkan tubuh rentah mereka. 

Ya, mungkin.. keluarga yang hangat luar dan dalam itu 'bukan sesuatu yang sulit' untuk diwujudkan. Contohnya, mereka bisa! Liat tuh diluar sana! Haha, dasar manusia yang tidak pernah ada puasnya. Selalu membanding-bandingkan dengan hal yang bukan menjadi pembandingnya. Coba lihat, di luar sana, banyak loh orang-orang yang tidak punya keluarga. Yang tidak bisa bersama orang tuanya. Maka, syukur mana lagi yang akan didustakan?! Bapak dan ibukku, adalah syukur kedua setelah nikmat Islam yang telah Allah titipkan dikehidupan ini!


Aku cuma mau bilang...

Mungkin tulisan ini enggak akan pernah dibaca oleh Bapak dan Ibukku. Tapi, aku tetap ingin mendokumentasikan perasaanku di sini. Mengungkapkan kata, Maaf...

Bu, Pak, maaf. Maaf, kalo Bela sering menuntut kalian jadi orang tua yang sempurna, padahal Bela sendiri belum bisa jadi anak yang sempurna untuk kalian. Bahkan, kehidupan ini saja tidak sempurna, Bu, Pak.

Bu, Pak, maaf. Maaf kalo sejauh ini, Bela belum bisa kasih yang terbaik buat kalian. Masih sering nyusahin dan nambahin beban di kepala kalian.

Pak, Bu, maaf. Maaf, kalo Bela enggak bisa sehebat anak-anak lain, gak seberuntung teman-teman Bela yang Bapak dan Ibu kenal. Tapi, Bela janji, Bela janji akan selalu menjunjung nilai-nilai yang selalu kalian tanamkan selama ini. Maaf, kalau lagi dan lagi, Bela belum bisa buat kalian bangga. Tapi, Bela janji sampai kapanpun, seumur hidup Bela, Bela tidak akan pernah buat kalian kecewa.