A TOXIC PEOPLE AND THE POSITIVE CIRCLE

 

Sering kali, kita dihadapkan dengan dua tipe orang; yang paham dan; yang memahami.


Tipe PAHAM, biasanya dia yang berkesimpulan dari apa yang diliatnya, apa yang dia denger, mungkin bisajadi yang dia baca.


Dia yang hanya paham kamu dan melihatmu dari satu anggle.


Dia yang hanya mendeskripsikan kamu dari pengamatannya tentang kamu. Yang biasanya kasih respon cepat, "LOH SALAH!"


Dia yang punya sudut pandang sempit dari kesimpulan yang ia ambil sendiri.


Biasanya yang datang dengan narasi bullshit, "Sorry, bukannya mau jatuhin elu! Bukannya mau sok tahu, and bla..bla..bla.."


Nah, kalau yang tipe memahami ini biasanya lebih terfokus pada alasan-alasan dibalik sikap atau tindakan yang kamu tampilkan.


Misalnya kamu lagi sedih nih, dia yang coba paham dulu, enggak langsung ngejudge "Ah, gitu doang!" tetapi yang mencari tahu backgroundnya kenapa. Dan akhirnya bilang, "Oh, I feel u."


Namun, kali ini aku ingin menceritakan, jika baru-baru ini aku dihadapkan dengan orang tipe PERTAMA.


Melelahkan sekali! 


Dia yang selalu tampak manipulatif dari 'act to servis' yg dia kasih seolah-olah kita tu enggak bisa tanpa dia, padahal dibalik itu sesungguhnya dia TOXIC PEOPLE yang harus dihindari.


Dia yang kalau ngomong selalu ngerasa paling bener. Padahal dia enggak cukup punya refrensi yang bisa dipertanggung jawabkan, dari apa yang dia ucapkan. 


Oh, siiiittttttt!


Kedengarannya cukup sulit dipahami ya?


Oke, simpelnya begini..

orang ini, yang sifatnya terlalu cepat buat ngeJUDGE sesuatu.


Yang kayak, dibeberapa momen dia tu yang ngerasa udah paham betul aku, sudah sepenuhnya mengerti. 


Sampai lancang banget bilang gini, "dari awal kita kenal, kamu tu orang yang TIDAK MAU BERJUANG." 


Wait.. wait..., Tahu apa dia tentang perjuangan seseorang? Kayak pengen teriak gitu, HEI PERJUANGAN GUE CUKUP GUE SENDIRI YANG TAHU! EMANG LU SIAPE?


Kedengarannya NGERI ya!


Bahkan dia juga pernah bilang gini pas aku nyoba kasih tanggapan (di momen sebelumnya), "gitulah batu, susah buat dipecahkan. Terlalu keras!" 


Bisajadi, seseorang ini akan kembali menyimpulkan begini kalau aku kasih respon yang sama di kesempatan itu.


Narasi-narasi berikutnya akan bertebaran. Yang bakal buat makin down dan nyimpulin satu cara buat STOP IT semuanya, yaitu DIEM DAN PURA-PURA NURUT OMONGAN DIA!  


Ya, memang cara kerja ngelawan dengan cerdas itu dengan DIEM, bukan?


Maksudnya, diam itu bukan artinya nerima. Tapi sederhananya begini, diri kamu punya kamu, kamu yang bisa ngendaliin.


Bukan HAK kamu untuk berusaha disukai semua orang!


Oh, omong-omong soal TOXIC, di tahun yang sama dan baru-baru ini, ada lagi jenis manusia TOXIC yang aku temui. DIA YANG CEMBURU SOSIAL. 


Dia yang tidak suka dengan privillage yang kita miliki. Dia yang senang menjatuhkan dan meremehkan, tanpa tahu betul potensi dari seseorang itu.


Pada suatu momen, kejengkelan-kejengkelan dan rasa CEMBURU atau IRI yang dia simpen atas hak istimewa yang dimiliki orang yang dicemburuin itu, meledak.


Belum lagi, mungkin dia ngerasa dari sisi jabatan, dia berhasil (belum lama ini) mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari orang yang dia cemburuin, dan berpikir waktunya untuk menjatuhkan orang yang menjadi parasit buat dirinya ini. 


Dan, ya... si parasit menurutnya itu, AKU. Dan, lagi-lagi aku cuma bisa diem, memilih ngelawan seadanya. 


But, you know what?


Nguras tenaga aja tahu gak sih ngelawan orang yang kayak gitu, ya kan? Kayak, enggak penting banget kan?


Maksudnya gini, lu enggak pernah berbuat jahat sama dia, lu enggak usil sama dia, bahkan lu enggak pernah mau tahu, kayak seadanya-seperlunya gitu.


Buat apa dilawan? STAY COOL AJA. Mau dia bilang apa, ya terserah.


Aduh, asyik banget ya kalo bisa se apatis itu. But, I'm cry :'( Ya, si keras itu tumbang juga.


Aku mikirnya gini, kenapa sih? Aku enggak pernah ganggu dia. Aku enggak pernah membuat dia celaka atau ngerampas hak dia.


Cuma hanya karena aku perempuan sendiri di lingkungan itu, harusnya enggak apa-apa kan diperlakukan istimewa?


TAPI, ya kembali lagi, BUKAN HAK KITA UNTUK MENYENANGKAN SEMUA ORANG.


Hak mereka untuk punya kesimpulan apapun tentang diri kita. Dan hak kita juga untuk memposisikan diri senyamannya.


Kita berhak untuk paham dan ngerti tentang MENTAL HEALT yang kita butuhin.


Seseorang pernah bilang ke aku, kita berhak milih CIRCLE yang buat kita nyaman, termotivasi, bantu kita bertumbuh.


Kalau kerjanya menjatuhkan, memojokan, dan selalu sok tahu tentang kehidupan kita, kita berhak untuk menjauh.


MENJAUH, SEJAUHNYA!


Yes, POSITIVE CIRCLE itu kita sendiri yang nyiptain.


Kayak, kita pilih temen ya orang yang bisa dampak baik buat diri kita. Kayaknya juga enggak perlu banyak-banyak deh.


Kembali lagi kepada HAK untuk SUKA atau TIDAK SUKA. Ingat, AKAN ADA ORANG YANG ENGGAK SUKA SAMA LU.


Ingat kata Ali Bin Abi Tholib:
Tidak perlu menjelaskan siapa diri kamu, karena orang yang suka kamu tidak butuh itu dan orang yang membenci kamu tidak percaya itu.